Hobi Baca Novel Online Sampai Lupa Waktu? Mata Kering Jangan Disepelein
Ada yang kalau sedang gabut memilih tidur, jalan-jalan, atau beberes rumah? Kalau aku, salah satu pilihan yang cukup sering terjadi adalah baca novel online lewat HP.
Apalagi kalau sedang senggugut dan bawaannya ingin rebahan saja. Rasanya kasur, bantal, ponsel, dan novel online sudah menjadi paket lengkap. 😂
Awalnya tentu saja cuma mau membaca beberapa bab. Tapi namanya juga novel. Kalau ceritanya sedang seru, satu bab terasa nanggung. Lanjut bab berikutnya. Eh, ternyata konfliknya makin menarik. Lanjut lagi.
Tahu-tahu dari pagi sudah bergeser ke siang. Lalu sore. Kalau tidak sadar diri, bisa lanjut sampai malam. Masalahnya, yang ikut membaca bukan cuma aku saja, tapi ya pasti mataku juga ikut bekerja lembur.
Ketika Mata Mulai Minta Istirahat
Biasanya aku mulai sadar setelah membaca cukup lama. Mata terasa sepet.Kadang seperti lelah. Sesekali area sekitar alis terasa berat dan mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada tulisan di layar. Yang lebih sering itu malah berairnya, sih.
Nah, kalau sudah begini, aku biasanya mulai bertanya kepada diri sendiri:
"Aku ini sedang membaca novel atau sedang menguji ketahanan mata, sih?" 🥲
Padahal membaca novel adalah aktivitas yang menyenangkan. Aku bisa begitu tenggelam dalam cerita sampai lupa waktu. Tetapi ketika mata mulai terasa tidak nyaman, kenikmatan membaca juga ikut berubah.
Aku mulai harus berkali-kali mengalihkan pandangan dari layar. Konsentrasi pada cerita pun tidak lagi seutuh tadi.
Dan yang paling menyebalkan, muncul dilema. Mau berhenti karena mata sudah lelah, tetapi penasaran dengan kelanjutan cerita. Mau lanjut, tetapi mulai khawatir kalau mata sudah terlalu banyak digunakan.
Biasanya aku tetap lanjut beberapa halaman. Iya, aku tahu.Bandelnya bukan main. 🥲
Kok Mata Kering Malah Bisa Berair?
Dulu aku juga sempat bingung dengan hal ini. Kalau mata kering, bukankah seharusnya tidak ada air mata? Ternyata kondisi mata kering tidak sesederhana itu.
Mata kering atau Dry eye dapat terjadi ketika produksi air mata tidak mencukupi atau air mata tidak bertahan dengan baik di permukaan mata. Akibatnya, mata bisa terasa sepet, perih, seperti ada yang mengganjal, lelah, atau mengalami gangguan penglihatan.
Dan yang menarik, gejala mata kering justru bisa disertai mata berair. Air mata yang keluar sebagai respons terhadap iritasi belum tentu berarti permukaan mata sudah mendapatkan pelumasan yang optimal.
Makanya sekarang kalau mataku tiba-tiba berair ketika sedang menatap layar, aku malah jadi was-was, apakah jaku kena gejala mata kering?
Kenapa Membaca di Ponsel Bisa Membuat Mata Cepat Lelah?
Ada penjelasan sederhananya.Ketika sedang fokus membaca, kita cenderung berkonsentrasi pada satu titik dalam waktu lama. Aktivitas yang membutuhkan perhatian visual terus-menerus juga dapat membuat frekuensi berkedip berkurang.
Padahal, berkedip membantu menjaga permukaan mata tetap terlapisi air mata.
Penggunaan perangkat digital dalam waktu lama juga dikaitkan dengan digital eye strain, yaitu kumpulan keluhan mata dan penglihatan yang muncul setelah penggunaan komputer, tablet, e-reader, atau ponsel secara berkepanjangan. Keluhannya dapat berupa mata lelah, kering, tidak nyaman, penglihatan kabur, hingga sakit kepala.
Jadi sebenarnya bukan berarti membaca novel adalah aktivitas yang buruk.
Masalahnya lebih kepada bagaimana kita melakukannya.
Kalau membaca sambil rebahan dari pagi sampai malam tanpa jeda, ya wajar kalau mata akhirnya ikut mengajukan protes.
Jadi, Berapa Lama Screen Time yang Aman?
Ini pertanyaan yang juga pernah membuatku penasaran. Setelah aku baca-baca banyak sumber di internet, ku simpulkan bahwa orang dewasa, ternyata tidak ada satu angka universal yang bisa diberlakukan sebagai batas aman screen time untuk semua orang. Apalagi kalau layar digunakan untuk pekerjaan, belajar, komunikasi, membaca, atau kebutuhan lainnya.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengelolanya: memberikan jeda, berkedip secara cukup, tetap aktif bergerak, menjaga tidur, dan tidak mengabaikan gejala ketika mata mulai terasa tidak nyaman.
Salah satu kebiasaan yang bisa dicoba adalah aturan 20-20-20. Setelah sekitar 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih 6 meter.
EyeWiki dari American Academy of Ophthalmology juga mencantumkan jeda dan kebiasaan berkedip sebagai bagian dari upaya mengurangi digital eye strain.
Jadi kalau sedang membaca novel, sesekali berhenti dan lihat ke luar jendela. Novel tidak akan kabur. Semoga saja aplikasi novelnya juga tidak tiba-tiba galat. 😂
Nah, sedangkan untuk anak-anak pembahasannya memang berbeda. Tidak tepat juga kalau semua usia diberi angka screen time yang sama.
American Academy of Pediatrics sekarang lebih mendorong keluarga membuat media plan yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Penggunaan layar perlu diseimbangkan dengan tidur, aktivitas fisik, belajar, bermain, interaksi keluarga, dan kegiatan penting lainnya.
Untuk anak usia sangat dini, WHO memiliki rekomendasi yang lebih spesifik. Anak usia 1 tahun tidak direkomendasikan memiliki sedentary screen time, sedangkan anak usia 2 tahun dan 3–4 tahun sebaiknya tidak lebih dari satu jam per hari; lebih sedikit lebih baik.
Jadi intinya bukan sekadar menghitung berapa lama anak memegang ponsel, tetapi memastikan layar tidak mengambil alih waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur, bergerak, bermain, belajar, dan berinteraksi.
Kalau Mata Mulai Lelah, Sebaiknya Bagaimana?
Kalau sudah terasa berat, aku biasanya mencoba berhenti membaca sebentar. Letakkan HP, pejamkan mata, lalu aku biasanya melakukan pijat mata dan senam mata.
Buatku pribadi, cara ini cukup terasa manfaatnya. Area sekitar mata terasa lebih rileks, sementara rasa berat dan agak pening biasanya berkurang cukup jauh.
Aku juga mencoba mengalihkan pandangan dari layar dan memberikan waktu bagi mata untuk beristirahat.
Tapi ini tentu saja pengalaman pribadiku. Aku tidak menganggap pijat atau senam mata sebagai cara untuk menyembuhkan mata kering atau memperbaiki ukuran mata silinder.
Kalau keluhan mata terus berulang, semakin berat, atau sampai mengganggu penglihatan, pemeriksaan mata tetap menjadi pilihan yang lebih tepat.
Dari Blog Teman, Aku Kenal Insto Dry Eyes
Setelah beberapa kali mengalami mata sepet, lelah, atau berair, aku mulai mencari informasi mengenai kondisi mata kering.
Sebagai blogger, tentu saja kebiasaanku adalah mencari informasi lewat internet.
Menariknya, aku justru beberapa kali menemukan nama #InstoDryEyes dari artikel di beberapa blog teman yang merekomendasikannya untuk gejala mata sepele seperti mata sepet dan perih.
Dari situlah nama produknya mulai familiar buatku.
![]() |
| Dokumentasi pribadi |
Sampai akhirnya ketika sedang berbelanja di Indomaret, aku memutuskan untuk membelinya. Harga yang ku dapat waktu itu sekitar Rp17.900 di Indomaret Aek Loba.
Setelah mencobanya sendiri, ternyata sensasinya cukup berbeda dari bayanganku.
Rasanya adem. Bukan dingin menusuk seperti mentol, tetapi lebih kepada sensasi adem yang membuat mata terasa nyaman.
Setelah digunakan, mataku terasa lebih enak dan segar.
Secara resmi, Insto Dry Eyes digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata dan membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) 3,0 mg dan Benzalkonium Chloride 0,1 mg.
Karena ini pengalaman penggunaan pribadiku, tentu aku tidak akan menganggap pengalaman tersebut sebagai jaminan bahwa semua orang akan merasakan hal yang sama.
Dan kalau keluhan mata menetap atau memburuk, tetap lebih baik berkonsultasi dengan dokter.
Sekarang Aku Jadi Lebih Sadar
Aku masih membaca novel online. Masih suka rebahan sambil membaca. Dan kalau ceritanya seru, kemungkinan besar masih bisa lupa waktu. 😂
Bedanya, sekarang ketika mata mulai memberikan sinyal berupa rasa sepet, lelah, berair, terasa berat, atau mulai sulit fokus, aku berusaha tidak langsung mengabaikannya.
Karena ternyata tubuh punya cara sendiri untuk mengingatkan kita. Kadang bukan dengan rasa sakit yang hebat. Cukup dengan mata yang mulai terasa tidak nyaman.
Dan mungkin itu sudah cukup untuk membuat kita berhenti sebentar. Toh, novel bisa dilanjutkan nanti. Mata juga perlu diajak kompromi.
Ketika baterai ponsel butuh diisi ulang saja kita rela berhenti menggunakannya, masa mata sendiri terus dipaksa bekerja tanpa jeda? Mata loh ini. Masa kalah dengan baterai sih sayangnya. Mata juga butuh istirahat. So, #MataSePeLeJanganSepelein ya biar kita #BebasMataKering.
Referensi
1. Halodoc: Informasi mengenai mata kering dan gejalanya.
2. American Academy of Ophthalmology EyeWiki: Computer Vision Syndrome (Digital Eye Strain)
3. American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org: panduan membuat Family Media Plan
4. Insto: Informasi resmi produk Insto Dry Eyes.



0 comments:
Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan Jejak ya ^_^